Mari Belajar Fraksi Harga Saham

Salah satu penelitian yang dilakukan Chung et al. (2005) di Kuala Lumpur Stock Exchage menunjukkan bahwa ukuran fraksi harga yang terlalu besar untuk saham dengan harga lebih tinggi malah merugikan likuiditas pasar.

Text and image block









Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMO - Faculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah SIndo Weekly No. 09 Tahun VI, 1-7 Mei 2017 p. 82

Pada Mei 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah peraturan penetapan fraksi harga (tick size). Saham yang berharga di bawah Rp200 memiliki fraksi saham Rp1 dengan maksimal perubahan Rp10. Sementara, saham dengan rentang harga Rp200 sampai kurang dari Rp500 memiliki fraksi saham Rp2 dengan maksimal perubahan Rp20. Saham harga Rp500 sampai kurang dari Rp2000 memiliki fraksi saham Rp5 dengan maksimal perubahan Rp50. Adapun saham dengan harga Rp2000 sampai kurang dari Rp5000 memiliki fraksi saham Rp10 dengan maksimal perubahan Rp100, serta saham berharga Rp5000 ke atas memiliki fraksi saham Rp25 dengan maksimal perubahan Rp250.

Fraksi harga saham adalah batasan rentang perubahan harga saham pada suatu saat. Sebagai ilustrasi, saham PT X memiliki harga pembukaan (opening price) Rp175 atau memiliki fraksi harga Rp1. Artinya, harga saham PT X tersebut hanya akan dapat berubah Rp1 per kali penawaran dan maksimal perubahannya Rp10, atau harga penutupan maksimal bagi saham terkait adalah Rp185 pada sesi perdagangan di hari tersebut.

Tujuan dari penetapan fraksi harga adalah untuk mengurangi volatilitas perubahan harga saham di pasar modal serta menambah partisipasi masyarakat sebagai investor ritel sebab biaya investasi menjadi lebih terjangkau, atau meningkatkan likuiditas dan aktivitas perdagangan saham.

Penelitian Gerrace et al. (2012) menyatakan adanya pengaruh positif antara penurunan fraksi harga saham terhadap likuiditas perdagangan saham di Hongkong Stock Exchange. Indikator-indikator yang dapat digunakan pada pengukuran likuiditas pasar modal diantaranya market spread (relative bid-ask spread, quoted spread, effective spread), kedalaman pasar (volume bid dan ask) serta aktivitas perdagangan (frekuensi, volume dan nilai perdagangan).

Apabila ditinjau kembali, perubahan penetapan fraksi harga saham di Indonesia sudah cukup banyak terjadi. Mulai dari 2000-an ketika hanya ditetapkan 1 fraksi senilai Rp25 dengan maksimal perubahan harga senilai Rp200 untuk semua kelompok harga saham di pasar modal.

Hal-hal yang melatarbelakangi perubahan ini di antaranya adalah selisih kuotasi harga jual-beli (bid-ask spread) yang terlalu lebar di BEI sehingga menghambat terjadinya transaksi serta rendahnya likuiditas saham, terutama saham yang memiliki fundamental bagus, namun harganya tinggi. Selain itu, nilai transaksi selama tiga tahun (2013-2015) pun mengalami tren penurunan yang mencapai sekitar 4% per tahun.

Penyesuaian fraksi harga, selain didasarkan oleh tuntutan para investor; perlu mempertimbangkan pula perbandingan nilai transaksi menurut kelompok harga saham yang ada. Hal inilah yang menyebabkan kelompok saham untuk setiap peraturan penetapan harga saham berbeda-beda. Contohnya, dari semula ada tiga kelompok harga saham pada regulasi 2014 berubah menjadi empat kelompok harga saham pada peraturan terbaru.

BEI senantiasa mengadakan tinjauan rutin terhadap parameter mikro perdagangan saham terkait peningkatan likuiditas pasar modal, termasuk adalah fraksi harga (tick size). Informasi mengenai perubahan penetapan fraksi harga tentunya menjadi informasi penting bagi investor untuk mengambil keputusan pembelian atau penjualan saham.

Akan tetapi, perubahan fraksi harga saham tidak selalu dapat berdampak positif bagi likuiditas pasar modal. Salah satu penelitian yang membahas mengenai hal ini adalah penelitian Chung et al. (2005) di Kuala Lumpur Stock Exchage yang menunjukkan bahwa ukuran fraksi harga yang terlalu besar untuk saham dengan harga lebih tinggi malah merugikan likuiditas pasar. Selain itu, penelitian dari Broughelle dan Declerk (2002) menyatakan, penurunan fraksi harga dapat menyebabkan penurunan kedalaman pada kuotasi pasar modal di French Stock Market. Hal-hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini sudah cukup banyak diadakan studi empiris mengenai penetapan fraksi harga optimal pada pasar modal di seluruh dunia.

Lalu, bagaimanakah efek penetapan fraksi harga saham terbaru terhadap likuiditas perdagangan saham di Indonesia? Mari simak, tinjau dan evaluasi bersama. Semoga saja saat ini telah diterapkan fraksi harga saham yang optimal di pasar modal Indonesia.


Share