Menyoal Manajemen Laba

Manajemen laba menjadi salah satu bentuk keleluasaan yang diberikan SAK agar laba yang dilaporkan perusahaan sesuai dengan target yang ditetapkan sebelumnya.

Text and image block



Oleh: Martdian Ratna Sari, M.Sc.Faculty Member PPM School of Management


*Tulisan ini dimuat di marketplus.co.id

 

Walau bukan barang baru, persoalan manajemen laba tetap krusial. Tentu saja agar tak perlu lagi ada kecurangan dalam laporan keuangan.

Marketplus.co.id – Dalam dunia akademisi, manajemen laba seperti yang dijabarkan pada artikel ini, sudah tidak lagi menjadi topik yang menarik untuk diteliti. Sudah banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa setiap perusahaan pasti melakukan manajemen laba. Apalagi ketika sebuah perusahaan akan melakukan initial public offering (IPO).

Namun, tidak jarang perusahan yang melakukan manajemen laba akhirnya menyajikan laporan keuangan yang bermuatan kecurangan. Dalam perkara ini, hal yang perlu dipahami adalah sejauh mana Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan keleluasaan kepada setiap perusahaan untuk mengatur labanya dan tidak menyajikan laporan keuangan yang menyesatkan.

Keleluasaan yang Diberikan SAK

SAK tidak mengatur secara mutlak bahwa setiap perusahaan harus menerapkan suatu prinsip tertentu. Bahkan SAK memberi keleluasaan kepada setiap perusahaan untuk memilih dan menerapkan prinsip-prinsip akuntansi yang sesuai dengan karakteristik perusahaan.  Ini karena  transaksi keuangan dan kondisi ekonomi antar perusahaan tidaklah sama meskipun dalam satu jenis industri. Kondisi itulah yang mengakibatkan timbulnya berbagai metode penghitungan dalam akuntansi.

Mengapa Diberi Keleluasaan?

Manajemen laba menjadi salah satu bentuk keleluasaan yang diberikan SAK agar laba yang dilaporkan perusahaan sesuai dengan target yang ditetapkan sebelumnya. Target yang akan dicapai adalah target laba jangka panjang yang tumbuh dan berkesinambungan, tanpa gejolak turun-naik yang biasanya nampak sebagai representasi dari proses ekonomi normal.

Namun demikian, sejatinya koridor keleluasaan SAK dalam manajemen laba ini diharapkan memberi ruang gerak bagi perusahaan untuk bertumbuh. Bukan untuk dijadikan ‘celah’ kecurangan yang menyesatkan



Agar terhindar dari pelanggaran pemalsuan laporan, mari kita pelajari kembali bagaimana manajemen laba seharusnya dipraktikkan.

Marketplus.co.id – Untuk mengkaji mengenai manajemen laba, mari kita awali dengan definisi dari Mulford (2010). Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa manajemen laba merupakan bentuk permainan angka-angka akuntansi. Beberapa manajemen laba dilakukan dalam dua kategori yaitu: di dalam fleksibilitas batasan yang ditentukan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan manajemen laba berada di luar batasan SAK sehingga menjadi pelanggaran.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami dan membedakan antara kondisi yang mendorong perlu melakukan manajemen laba dengan imbalan yang mendasari dilakukannya manajemen laba. Misalnya, perusahaan melakukan manajemen laba dengan menyesuaikan laba tahun berjalan berdasarkan ramalan konsensus di pasar modal. Harapannya adalah imbalan harga saham di pasar modal tidak turun drastis. Atau misalnya perusahaan melakukan manajemen laba karena sedang mempersiapkan IPO dengan harapan perusahaan dapat menyajikan laba terbaik sehingga penjualan saham dapat dimaksimalkan.

Teknik Manajemen Laba Dalam Batasan SAK

Masih menurut Muford, terdapat berbagai macam teknik manajemen laba yang dilakukan dalam batasan SAK dengan bergantung pada pertimbangan dan putusan manajemen, yaitu:

  1. mengubah metode depresiasi;
  2. mengubah umur aset tetap;
  3. menetapkan cadangan piutang tak tertagih;
  4. menetapkan cadangan kewajiban warranty, dan banyak lagi.

Teknik Manajemen Laba di Luar Batasan SAK

Sedangkan untuk manajemen laba yang dilakukan di luar batasan SAK seperti;

  1. mengakui pendapatan atas penjualan tanpa mengirimkan barang yang dipesan;
  2. menilai terlalu rendah cadangan piutang dan mengubah cadangan menjadi pendapatan;
  3. kapitalisasi biaya yang tidak benar (terutama biaya bunga), dan lain-lain.

Jika hal di atas dilakukan secara berlebihan dengan upaya mengatur laba untuk penghilangan jumlah yang besar atau penghilangan penjelasan atas laporan keuangan, lalu tindakan tersebut diniatkan untuk menyesatkan dan menipu para pengguna laporan keuangan. Maka mengakibatkan laporan keuangan bermuatan kecurangan. Dengan begitu, apakah dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah sesuatu hal yang buruk? Mari kita kaji lebih lanjut mengenai penilaian naik dan buruknya manajemen laba di artikel ini.


Fleksibilitas dari batasan Standar Akuntansi Keuangan dalam hal manajemen laba untuk perusahaan membuat penilaian baik dan buruknya menjadi abu-abu? Tentu tidak, simak penjelasannya di sini.

Marketplus.co.id – Setelah mengkaji kembali mengenai manajemen laba dan koridor keleluasaan yang diberikan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), masih ada saja perusahan yang melakukan manajemen laba akhirnya menyajikan laporan keuangan yang bermuatan kecurangan. Nah, agar Anda tak terjebak dalam penilaian buruk mengenai manajemen laba yang dikelola, maka lanjutkan bacaan ini.

Mulford (2010) menyatakan bahwa untuk dapat menilai baik dan buruknya manajemen laba tergantung pada sifat langkah-langkah manajemen laba yang dilakukan dan tujuan dari manajemen laba tersebut. Langkah-langkah manajemen laba bisa berada dalam rentang mulai dari yang paling hati-hati dengan menggunakan fleksibilitas dalam batasan SAK, menggunakan fleksibilitas yang hampir di luar batasan SAK, sampai pada melanggar SAK dengan membuat laporan keuangan bermuatan kecurangan.

Ada berbagai pandangan mengenai manajemen laba itu sendiri. Biasanya akademisi berpendapat bahwa manajemen laba itu tidak buruk dengan mengasumsikan bahwa laporan keuangan telah mengungkapkan seluruh manajemen laba yang dilakukan, atau dengan kata lain manajemen laba yang baik adalah yang masih dalam batasan aturan SAK dan diungkapkan secara penuh mengenai dampaknya terhadap kinerja keuangan tahun berjalan dan yang akan datang.

Sedangkan manajemen laba yang buruk adalah menyajikan kinerja keuangan yang menyesatkan pembacanya dengan tidak mengungkapkan seluruhnya maupun sebagian mengenai dampaknya terhadap kinerja keuangan dan biasanya dilakukan secara tersembunyi.

Share