Peluang Kolaborasi Rantai Pasok Indonesia

Kolaborasi dalam rantai pasok didefinisikan sebagai hubungan jangka panjang di pihak yang saling berinteraksi. Biasanya bekerja sama, berbagi informasi, merencanakan, dan bahkan memodifikasi praktik bisnis.

Text and image block



Oleh : Puput Suwastika, M.M.– Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Dalam era kemajuan teknologi saat ini, informasi tersedia begitu mudahnya. Hal ini membuka kesempatan mengetahui segala informasi yang dimiliki oleh suatu organisasi yang dapat ditangkap dengan mudahnya oleh tidak hanya calon pelanggan, pemasok, bahkan perusahaan lain yang berkeinginan untuk bekerja sama.

Kerja sama atau kolaborasi terjadi dalam segala bidang. Dalam serangkaian proses dari hulu hingga hilir pada aliran rantai pasok (supply chain), sangat memungkinkan terjalin bentuk kolaborasi. Kolaborasi digadang-gadang sebagai salah satu cara bagi organisasi agar mampu bersaing dengan melakukan efisiensi dari segi biaya operasional, serta lebih efektif untuk merambah pasar yang lebih luas.

Kolaborasi dalam rantai pasok didefinisikan sebagai hubungan jangka panjang di pihak yang saling berinteraksi. Biasanya bekerja sama, berbagi informasi, merencanakan, dan bahkan memodifikasi praktik bisnis mereka untuk meningkatkan kinerja bersama (Whipple et al., 2010). Hubungan jangka panjang ini dapat terjalin dengan pemasok, pelanggan, dan penyedia jasa pendukung lainnya.

Dalam area Supply Chain Management, kolaborasi dengan penyedia jasa pendukung logistik yang dikenal sebagai Third Party Logistic (3PL) kian marak di seluruh negara di belahan dunia. 3PL sendiri merupakan sebutan perusahaan penyedia jasa integrasi logistik dalam kegiatan supply chain, antara lain transportasi domestik serta internasional, pergudangan, pengelolaan persediaan, light manufacturing, teknologi informasi, pusat layanan pelanggan serta layanan reverse logistic.

Maraknya, penggunaan 3PL ini pun berlandaskan manfaat besar yang dapat diperoleh perusahaan dengan melakukan kolaborasi dengannya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Georgia Tech. (2010), kerjasama dalam bentuk kolaborasi yang apik dengan 3PL, perusahaan pada umumnya dapat mengurai 15% biaya logistik, investasi aset tetap dalam bidang logistik sebesar 25%, dan biaya inventory sebesar 11%.

Di samping manfaat efisiensi diatas, kolaborasi 3PL juga memiliki berbagai manfaat lain, yaitu:

  1. Perusahaan dapat fokus pada industri utama garapannya. 3PL membantu perusahaan mengerjakan kegiatan pendukung yang kadang kala memecah konsentrasi para top management. Dengan 3PL perusahaan dapat fokus pada tujuan utama keberadaan perusahaan.

  2. Transfer risiko. 3PL dikelola dengan sumber daya yang terampil di bidangnya, dengan kolaborasi pada 3PL yang tepat, perusahaan dapat “tidur tenang”, karena kemungkinan kegagalan atas transaksi logistik sudah ditangani oleh orang yang tepat. Dan segala bentuk risiko ketidaksesuaian dapat ditanggung oleh 3PL dengan perjanjian yang ketat di awal kerjasamanya.

  3. Mengurangi biaya investasi untuk pembangunan gudang, pembelian moda transportasi, perancangan sistem informasi, maupun investasi penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia dalam bidang logistik. 3PL menawarkan jasa logistik yang dibutuhkan, dengan itu perusahaan tidak lagi harus memikirkan besaran jumlah investasi yang dibutuhkan. Biaya atas investasi tersebut pun dapat ditekan dengan optimal, modal yang tidak digunakan bahkan dapat dialih-gunakan untuk investasi pengembangan bisnis utama perusahaan.

  4. Meningkatkan flexibilitas meraih pasar yang lebih luas. Dengan keberadaan channel distribusi 3PL yang tersebar di seluruh wilayah, perusahaan akan lebih leluasa mengembangkan sayapnya untuk merambah pasar-pasar baru.

  5. Mewujudkan economic of scale. Dengan menggunakan 3PL, perusahaan memiliki peluang untuk dapat menghasilkan output lebih banyak dari biasanya tanpa terkendala batasan kapasitas kemampuan logistik yang ada di perusahaan. 3PL menyediakan kepastian kapasitas yang mencukupi untuk kebutuhan perusahaan, kapan saja, dimana saja.

Namun tidak dapat dihindari, faktor lack of control merupakan salah satu kelemahan penggunaan 3PL. Karena dikelola oleh pihak ketiga kadang kala membuat perusahaan tidak dapat mengawasi secara langsung aktivitas yang dijalankan 3PL. Namun hal ini dapat dengan mudah dicegah dengan menerapkan pemantauan berkala (harian atau mingguan). Pematauan dapat berupa laporan harian atas aktivitas maupun penentuan key performance indicator (KPI) atas pelaksanaan kegiatan logistik yang dilakukan 3PL.

Besarnya manfaat yang dapat diperoleh ini belum diimbangi dengan jumlah sebaran keberadaan 3PL. Di indonesia sendiri, penggunaan jasa 3PL hanya berkisar 7.2% dari keseluruhan biaya logistik yang dikeluarkan perusahaan di Indonesia. Angka ini masih jauh di bawah negara tetangga lainnya seperti Singapura (11.5%), Hongkong (11.3%) dan Australia (10.2%).


Biaya Logistik dan Pendapatan 3PL (US$ Billions)

Wilayah

Negara

GDP 2015

Logistik (GDP %)

Biaya Logistik 2015

Pendapatan 3PL (%)

Pendapatan 3PL 2015

Asia Tenggara

Singapore

294

8.50%

25

11.50%

2.9

Vietnam

198.8

10.70%

21.3

7.40%

1.6

Indonesia

872.6

10.70%

93.4

7.20%

6.8

Malaysia

313.5

10.70%

33.6

7.10%

2.4

Philippines

292

10.70%

31.3

7.10%

2.2

Asia Pasific

Hong Kong

307.8

8.50%

26.1

11.30%

2.9

Korea Selatan

1393

9.00%

125.3

11.10%

13.9

Taiwan

518.8

9.00%

46.8

11.00%

5.1

Japan

4127

8.50%

350.8

10.50%

36.8

Australia

1241

10.50%

130.2

10.20%

13.3

Cina

11380

18.00%

2048.4

8.00%

163.8

India

2183

13.00%

283.6

7.00%

19.8

(sumber: diolah dari www.3plogistics.com)


Market share 3PL di Indonesia masih tergolong kecil dibandingkan dengan pengeluaran atas aktivitas logistik di Indonesia yang cukup besar, yakni lebih dari tiga kali lipat dari negara tetangganya, ini menjadi peluang SANGAT BESAR bagi penyedia jasa 3PL. Tak heran jika pangsa 3PL di Indonesia saat ini banyak dikuasi pemain asing yang membaca dengan cepat peluang baik ini.

Kue pasar 3PL masih tersaji sangat besar, kesempatan untuk menjalin kolaborasi dalam supply chain dengan 3PL pun tak kalah menggiurkannya. Kesadaran dan keterbukaan informasi akan manfaat yang didapat oleh para pelaku yang terlibat diharapkan mampu menjadi penggerak majunya industri ini.

Share